REVIEW FILM AUTOBIOGRAPHY (2022)
Film Autobiography (2022) merupakan karya debut penyutradaraan Makbul Mubarak yang hadir sebagai film drama thriller. Secara personal, ini adalah film bernuansa western Indonesia terbaik kedua yang pernah saya tonton setelah Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Diperkuat oleh deretan aktor berbakat seperti Kevin Ardilova, Arswendy Bening Swara, dan Yusuf Mahardika, film ini mencoba menggali dinamika kekuasaan dan ketakutan dalam balutan cerita yang kelam.
Berlatar tahun 2017, ceritanya berpusat pada Rakib, seorang pemuda pendiam yang mewarisi pekerjaan ayahnya sebagai pengurus rumah keluarga Purnawinata. Pak Purna sendiri adalah pensiunan jenderal era Orde Baru yang pulang kampung untuk mencalonkan diri sebagai bupati. Dinamika keduanya mulai diuji ketika kampanye Pak Purna diganggu oleh aksi perusakan baliho. Rakib yang berusaha keras membela sang majikan demi membuktikan kesetiaannya, justru perlahan terseret ke dalam rantai kekerasan yang mengerikan.
Dari segi sinematografi dan penyutradaraan, film ini patut diacungi jempol. Sang sutradara sukses membangun atmosfer mencekam berkat akting natural Kevin Ardilova yang memancarkan aura ketakutan tanpa perlu banyak dialog. Di sisi lain, penampilan Arswendy Bening Swara juga luar biasa, tanpa perlu bersuara lantang, pembawaan tenang dan dingin Pak Purna sudah cukup membuat siapa saja bergidik ngeri. Kejeniusan penyutradaraan juga terlihat dari keputusan untuk jarang menyorot ekspresi wajah Pak Purna secara utuh, sehingga penonton ikut merasa segan dan tunduk seperti Rakib. Ditambah lagi, pergerakan kamera dan penggunaan pola kotak-kotak pada latar sukses menyimbolkan sistem kelas sosial yang kaku, meski color grading-nya kadang terasa terlalu gelap dan sedikit melelahkan mata.
Sayangnya, eksekusi visual yang sangat matang ini tidak diimbangi dengan penulisan naskah yang solid. Semakin mendekati akhir, kengerian yang sudah dibangun dengan sangat hati-hati perlahan runtuh akibat berbagai kejanggalan logika. Salah satu kekecewaan muncul ketika adegan klimaks saat Pak Purna menghajar Agus sang perusak baliho justru disembunyikan di balik pintu tertutup. Anehnya lagi, Agus yang berbadan tegap dan berandal justru pasrah dihabisi oleh pria tua tanpa perlawanan sama sekali. Skala kampanye sang jenderal juga terasa kurang realistis karena terlalu sepi hingga lebih mirip pemilihan kepala desa, belum lagi pilihan berlabuh di partai merah yang terasa janggal untuk seorang pensiunan jenderal Orde Baru.
Berbagai keputusan karakter yang ditunjukkan juga sering kali terasa menjadi blunder. Mulai dari Rakib yang menyimpan potongan baliho rusak di kantongnya tanpa alasan logis, hingga keputusan taktis Pak Purna yang menyuruh Rakib membawa Agus yang sekarat ke rumah sakit. Untuk ukuran seorang jenderal ahli strategi militer, tindakan ini sangat konyol dan tidak natural karena berisiko besar terekam CCTV dan membongkar kejahatan mereka sendiri.
Puncak kelemahan dan absurditas cerita akhirnya memuncak di bagian akhir yang terasa cukup dipaksakan. Rakib yang kehilangan akal sehatnya memutuskan membunuh Pak Purna menggunakan senapan laras panjang yang ia bawa secara ceroboh. Di sisi lain, Pak Purna mendadak kehilangan insting militernya dan bertingkah layaknya korban di film horor murahan saat berjalan sendirian ke ladang jagung yang gelap tanpa kewaspadaan. Eksekusi adegan penembakannya pun kurang realistis karena senapan api tersebut tidak memunculkan daya tolak (recoil) sama sekali. Semua kejanggalan ini ditutup dengan absurditas pihak kepolisian yang sama sekali tidak menginvestigasi kematian seorang jenderal dengan dua peluru bersarang di tubuhnya. Padahal, di awal film mereka digambarkan bisa dengan cepat menangkap ayah Rakib hanya karena kasus pencurian aki traktor.
Secara keseluruhan, visual dan akting dalam Autobiography tampil sangat prima dan memanjakan mata. Namun, plot cerita yang berjalan lambat, tidak natural, dan penuh celah logika membuat film ini terasa seperti karya overhyped yang masih standar jika disandingkan dengan sinema internasional lainnya. Meskipun begitu, keberanian Makbul Mubarak mengangkat isu sensitif dengan gaya arthouse di film panjang pertamanya ini tetap merupakan langkah awal yang luar biasa dan pantas mendapatkan apresiasi tinggi. Skor akhir untuk film ini: 7/10.



Comments
Post a Comment